Informasi lengkap silahkan hubungi : 0341 - 717753

Rabu, 06 Februari 2019

MENELADANI AKHLAK NABI

Administrator Web




Oleh: Elly Anasrul Firdaus, S.Pd

     DALAM sejarah manusia tidak akan pernah lepas dari dua hal yaitu khalifatullah dan makhluk sosial. Khalifatullah berfungsi sebagai orang yang menjaga stabilitas kehidupan di muka bumi sedangkan makhluk sosial adalah bahwa kehidupan manusia itu akan saling membutuhkan antara yang satu dengan yang lainnya. Hal di atas menjadi dasar pentingnya akhlak bagi keberlangsungan kehidupan manusia yang erat kaitannya dengan حَبْلٌ مِنَ اللَّهِ hubungan dengan Allah SWT sebagai sang pencipta manusia dan حَبْلٌ مِنَ النَّاسِ hubungan sesama manusia sebagai makhluk sosial yang saling membutuhkan. Maka dari itu sebagai orang Islam kita wajib tahu dan mengambil hikmah peristiwa dimasa lalu sejak Nabi Adam sampai Nabi Muhammad SAW. 
     Banyak sekali cerita dan hikmah yang bisa kita petik pada masa itu seperti peristiwa tenggelamnya Bahtera Nuh. Dimana diceritakan pada masa itu ada sekelompok orang yang tidak percaya dengan ajakan  Nabi Nuh untuk menaiki kapal agar terhindar dari banjir bandang. Bahkan, Kanaan anak dari Nabi Nuh lebih memilih menaiki gunung tertinggi pada saat itu berharap selamat dari banjir bandang namun pada kenyataannya ditelan banjir juga karena menolak ajakan Nabi Nuh. Cerita Nabi Isa di mana pada saat itu kita juga belajar dari cerita Fir’aun pada zaman Nabi Musa yang diabadikan dalam Al-quran karena kesombongannya bahkan mengganggap dirinya Tuhan, maka seketika itu Allah tenggelamkan Fir’aun di dasar lautan yang dalam beserta singgasana dan hartanya. Dan, penyesalan Fir’aun berakhir dengan sia-sia sampai jasadnya diabadikan oleh Allah SWT untuk diambil pelajaran bagi manusia setelahnya. 
     Pada masa Nabi Ibrahim, kita lihat bagaimana Allah menguji kesabarannya, anak yang ia nantikan selama bertahun-tahun telah lahir, namun seketika itu Allah memerintahkan untuk menyembelihnya.  Nabi Ibrahim pun menunjukkan keteguhan, ketaatan, dan kesabaran dalam menjalankan perintah kepada Allah dan akhirnya menyembelih anaknya. Namun, Allah menggantikannya dengan hewan yang kita kenal sekarang dengan Idul Qurban. Kita juga belajar dari cerita Nabi Muhammad yang dijuluki sebagai nabi yang mempunyai sifat Shiddiq, Amanah, Fathonah,Tablig, sabar, rendah hati, lemah-lembut, dsb.

HIKMAH DIUTUSNYA NABI

1. Allah SWT mengutus para Rasul AS untuk mengenalkan manusia tentang Rabb dan Pencipta mereka serta mendakwahkan mereka untuk beribadah hanya kepada-Nya.
وَمَا أَرْسَلْنَا مِنْ قَبْلِكَ مِنْ رَسُولٍ إِلَّا نُوحِي إِلَيْهِ أَنَّهُ لَا إِلَٰهَ إِلَّا أَنَا فَاعْبُدُونِ [٢١:٢٥]
Dan Kami tidak mengutus seorang rasul pun sebelum kamu melainkan Kami wahyukan kepadanya: “Bahwasanya tidak ada Tuhan (yang hak) melainkan Aku, maka sembahlah olehmu sekalian akan Aku”. (Al-anbiya (21): 25).

2. Kita mengetahui bahwa semua bagian tubuh kita telah diciptakan untuk tujuan dan manfaat tertentu (memiliki hikmah). Mata kita diciptakan dengan tujuan dan tidak diciptakan sia-sia, demikian pula hidung kita, telinga kita, bahkan bagian tubuh paling kecil pun diciptakan dengan manfaat tertentu dan tidak ada yang sia-sia. Maka tidak dapat diragukan lagi bahwa kita secara keseluruhan pasti telah diciptakan untuk sebuah hikmah (tujuan) yang jelas dan tidak mungkin diciptakan sia-sia.
أَفَحَسِبْتُمْ أَنَّمَا خَلَقْنَاكُمْ عَبَثًا وَأَنَّكُمْ إِلَيْنَا لَا تُرْجَعُونَ [٢٣:١١٥]
فَتَعَالَى اللَّهُ الْمَلِكُ الْحَقُّ ۖ لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ رَبُّ الْعَرْشِ الْكَرِيمِ [٢٣:١١٦]
Maka apakah kamu mengira, bahwa sesungguhnya Kami menciptakan kamu secara main-main (saja), dan bahwa kamu tidak akan dikembalikan kepada Kami? Maka Maha Tinggi Allah, Raja yang sebenarnya; tidak ada Tuhan selain Dia, Tuhan (yang mempunyai) ‘arsy yang mulia. (Al-Mu’minun [23]: 115-116).
Namun Kita tidak mungkin mengetahui hikmah tersebut kecuali dengan pengajaran Allah SWT melalui para rasul alaihimussalam.
     Penduduk bumi hari ini, 100 tahun yang lalu berada di alam ghaib kemudian lahir ke dunia, dan setelah maksimal 100 tahun lagi pasti mereka meninggalkan dunia ini. Manusia tidak akan pernah tahu mengapa ia datang ke dunia atau mengapa ia keluar setelah datang kecuali dengan informasi dari Allah yang telah menciptakannya setelah sebelumnya ia tidak ada sama sekali. Kemudian, ia datang ke dunia dalam keadaan hidup lalu dimatikan untuk keluar dari dunia. Allah SWT mengutus para Rasul AS untuk mengajarkan kepada kita permasalahan ini dan ia adalah perkara yang paling krusial dan terpenting yang tidak dapat kita ketahui tanpa mereka.
     Allah SWTyang telah menciptakan kita, Dia lebih mengetahui tentang apa saja yang dapat memperbaiki diri dan keadaan kita, apa saja yang menyucikan jiwa kita, membersihkan akhlaq kita dan Dia telah memberi petunjuk kepada kita melalui para Rasul AS tentang semua hal yang mengandung hakikat kebahagiaan dunia dan akhirat. Allah swt berfirman:
كَمَا أَرْسَلْنَا فِيكُمْ رَسُولًا مِنْكُمْ يَتْلُو عَلَيْكُمْ آيَاتِنَا وَيُزَكِّيكُمْ وَيُعَلِّمُكُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَيُعَلِّمُكُمْ مَا لَمْ تَكُونُوا تَعْلَمُونَ [٢:١٥١]
Sebagaimana (Kami Telah menyempurnakan nikmat Kami kepadamu) Kami telah mengutus kepadamu Rasul di antara kamu yang membacakan ayat-ayat Kami kepada kamu dan mensucikan kamu dan mengajarkan kepadamu Al Kitab dan Al-Hikmah, serta mengajarkan kepada kamu apa yang belum kamu ketahui. (Al-Baqarah [2]: 151).
3. AllahSWT mengutus para Rasul untuk menyelamatkan manusia dari perselisihan tentang prinsip-prinsip hidup mereka dan menunjuki mereka kepada kebenaran yang diinginkan Sang Pencipta. Dia berfirman:
وَمَا أَنْزَلْنَا عَلَيْكَ الْكِتَابَ إِلَّا لِتُبَيِّنَ لَهُمُ الَّذِي اخْتَلَفُوا فِيهِ ۙ وَهُدًى وَرَحْمَةً لِقَوْمٍ يُؤْمِنُونَ [١٦:٦٤]
Dan Kami tidak menurunkan kepadamu Al-Kitab (Al Quran) ini, melainkan agar kamu dapat menjelaskan kepada mereka apa yang mereka perselisihkan itu dan menjadi petunjuk dan rahmat bagi kaum yang beriman. (An-Nahl [16]: 64).
4. Allah SWT mengutus para Rasul as untuk iqamatuddin (menegakkan agama-Nya), menjaganya (dari pemalsuan dan upaya penyimpangan), untuk melarang manusia berpecah belah (berbeda) tentangnya, dan agar manusia berhukum dengan hukum yang diturunkan-Nya. Allah SWT berfirman:
۞ شَرَعَ لَكُمْ مِنَ الدِّينِ مَا وَصَّىٰ بِهِ نُوحًا وَالَّذِي أَوْحَيْنَا إِلَيْكَ وَمَا وَصَّيْنَا بِهِ إِبْرَاهِيمَ وَمُوسَىٰ وَعِيسَىٰ ۖ أَنْ أَقِيمُوا الدِّينَ وَلَا تَتَفَرَّقُوا فِيهِ ۚ كَبُرَ عَلَى الْمُشْرِكِينَ مَا تَدْعُوهُمْ إِلَيْهِ ۚ اللَّهُ يَجْتَبِي إِلَيْهِ مَنْ يَشَاءُ وَيَهْدِي إِلَيْهِ مَنْ يُنِيبُ [٤٢:١٣]
Dia telah mensyariatkan bagi kamu tentang agama apa yang telah diwasiatkan-Nya kepada Nuh dan apa yang telah Kami wahyukan kepadamu dan apa yang telah Kami wasiatkan kepada Ibrahim, Musa, dan Isa yaitu: Tegakkanlah agama dan janganlah kamu berpecah belah tentangnya. Amat berat bagi orang-orang musyrik agama yang kamu seru mereka kepadanya. Allah menarik kepada agama itu orang yang dikehendaki-Nya dan memberi petunjuk kepada (agama)-Nya orang yang kembali (kepada-Nya).
إِنَّا أَنْزَلْنَا إِلَيْكَ الْكِتَابَ بِالْحَقِّ لِتَحْكُمَ بَيْنَ النَّاسِ بِمَا أَرَاكَ اللَّهُ ۚ وَلَا تَكُنْ لِلْخَائِنِينَ خَصِيمًا [٤:١٠٥]
Sesungguhnya Kami telah menurunkan Kitab kepadamu dengan membawa kebenaran, supaya kamu mengadili antara manusia dengan apa yang telah Allah wahyukan kepadamu, dan janganlah kamu menjadi penantang (orang yang tidak bersalah), karena (membela) orang-orang yang khianat. (An-Nisa [4]: 105).
5. Allah SWT mengutus para Rasul AS untuk memberi kabar gembira kepada orang-orang yang beriman tentang janji-janji kebaikan berupa nikmat abadi sebagai balasan ketaatan mereka; memperingatkan orang-orang kafir dengan akibat buruk kekafiran mereka, juga untuk membatalkan alasan kekafiran mereka di akhirat karena Rasul telah menyampaikan kebenaran kepada mereka (sehingga tidak ada alasan bagi mereka untuk tidak tahu kebenaran). Dia berfirman:
رُسُلًا مُبَشِّرِينَ وَمُنْذِرِينَ لِئَلَّا يَكُونَ لِلنَّاسِ عَلَى اللَّهِ حُجَّةٌ بَعْدَ الرُّسُلِ ۚ وَكَانَ اللَّهُ عَزِيزًا حَكِيمًا [٤:١٦٥]
(Mereka Kami utus) selaku rasul-rasul pembawa berita gembira dan pemberi peringatan agar supaya tidak ada alasan bagi manusia membantah Allah sesudah diutusnya rasul-rasul itu. dan adalah Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. (An-Nisa [4]: 165).
6. Para Rasul AS diutus untuk memberikan  uswah hasanah (keteladanan yang baik) bagi manusia dalam perilaku yang lurus, akhlaq yang utama, ibadah yang shahih dan istiqamah di atas petunjuk Allah SWT. Firman AllahSWT:
لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا [٣٣:٢١]
Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah. (Al-Ahzab [33]: 21).
Yang terpenting di era milenial ini adalah bagaimana kita bisa mengambil hikmah dari peristiwa di masa lalu dan juga kewajiban kita sebagai umat Islam untuk senantiasa menjaga ajaran agama Islam yang membawa kesejukan batin, kedamaian antar sesama manusia, rahmat bagi seluruh manusia dan alam semesta, dan saling mengingatkan dalam kebenaran dan penuh kesabaran.  
Semua arahan dan petunjuk Ilahiyah yang mulia ini sekali lagi tidak mungkin dipahami dan dijangkau oleh manusia dengan semata menggunakan akal mereka yang sangat terbatas dan lemah. Mereka hanya dapat mempelajarinya melalui wahyu Allah SWT kepada para rasul-Nya. (*)
*) Penulis adalah Guru Bahasa Arab SD Islam dan Pondok Tahfidzh Baitul Makmur

Editor: Hendarmono Al Sidarto



Administrator Web / Author & Editor

Has laoreet percipitur ad. Vide interesset in mei, no his legimus verterem. Et nostrum imperdiet appellantur usu, mnesarchum referrentur id vim.

1 komentar:

  1. Jadikan sejarah menjadi imbrio ke depan yg lbh baik sbg titik awal kebangkitan diri menuju hr esok yg lbh Baik..

    BalasHapus

Coprights 2018 | Designed By | #GoldCreative