Informasi lengkap silahkan hubungi : 0341 - 717753

Rabu, 03 Oktober 2018

Gunakanlah Kata ’Jangan’ dalam Mendidik Anak

Administrator Web
Mulailah mendidik anak kita dengan kata ‘jangan’. Memang, kata ini banyak sekali persepsinya yang bermuatan negatif dan larangan. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) kata jangan berarti menyatakan melarang, tidak boleh, hendaknya tidak usah.
Namun, kita sebagai orang tua sering lupa atau tidak tahu bahwa lebih dari 500 kata di dalam Al-Qur'an menggunakan kata jangan. Salah satunya, di dalam Surat Luqman ayat 12-19 dijelaskan bahwa dalam mendidik anak dilakukan dengan kasih sayang orang tua bukan membentak. Artinya, metode pendidikan yang dilakukan adalah dengan nasehat orang tua ke anak secara tulus, ikhlas, berbekas, dan berpengaruh saat memasuki jiwa yang bening hati, terbuka, dan bijak saat mendidik anak. Setidaknya, metode yang diterapkan dalam pendidikan adalah metode keteladanan sesuai Al- Qur'an dan Hadits.
Kesalahan dalam mendidik anak pada zaman now di antaranya: mudahnya akses internet yang bisa mengubah pola pikir anak-anak. Selain itu, mudahnya anak-anak dalam berkomunikasi dalam lawan jenis yang membuat anak lebih nyaman dengan sahabat atau teman . Solusinya, adalah bagaimana orang tua sekarang bisa berkomunikasi dengan baik terhadap anaknya, komunikasi yang bermartabat, berakhlak, dan bermutu.

Jangan mengharamkan kata jangan kepada anak-anak agar tahu mana yang baik dan buruk, mana yang benar dan salah. Selama ini, kata jangan sangat berasumsi ke kalimat negatif atau perintah negatif. Karena itulah, berangkat dari hal tersebut kita mengupas kekeliruan pada buku-buku pendidikan, seminar teori pendidikan, dan lain-lain,  terutama digunakannya kata preventif seperti hati-hati, berhenti, dan diam atau stop. Alasannya,  menggunakan kata jangan karena alam bawah sadar manusia tidak merespons dengan cepat kata jangan. Kata jangan akan memberikan nuansa negatif dan larangan sebagai orang tua. Maka dari itu, coba ganti kata dengan lebih positif dan berikan alasan agar dapat diterima oleh anak. Hal inilah yang membuat keraguan dan indah nampaknya tapi di dalamnya terkandung bahaya kronis (keraguan).
Mari kita bahas syubhat (keraguan) yang ada saat ini. Kalau mau teliti mari kita tanyakan kepada mereka yang melarang kata jangan. Padahal, sebaliknya ratusan kata jangan tercantum di dalam Surat Luqman ayat 12 -19. Dalam penjelasannya, kisah Surat Luqman ini dibuka dengan penekanan Allah SWT bahwa Luqman Hakim itu orang yang diberi hidayah (orang arif yang secara tersirat kita diperintahkan untuk meneladaninya).
QS. Luqman 13  bahkan lebih tegas bahwa Luqman menceritakan, "Janganlah engkau menyekutukan Allah SWT, sesungguhnya syirik termasuk dosa besar." Dalam hal ini Luqman tidak perlu mengganti kata “jangan menyekutukan Allah dengan Esakanlah Allah SWT”.
Pun demikian dengan "laa" yang lain, tidak diganti dengan kata-kata kebalikan yang bersifat ajaran mengapa Luqman tidak mengganti jangan, diam, atau berhenti. Kata jangan itu mudah dicerna oleh murid-murid atau anak-anak sebagaimana penuturan Luqman kepada anaknya. Karena itulah, kita sebagai orang tua wali harus mengatakan kata jangan untuk ketegasan dalam menjaga anak-anak di tengah kemajuan era globalisasi. (*/hen)



Penulis: Surya Agung Sabda, S.Pd

Editor: Hendarmono Al Sidarto

Administrator Web / Author & Editor

Has laoreet percipitur ad. Vide interesset in mei, no his legimus verterem. Et nostrum imperdiet appellantur usu, mnesarchum referrentur id vim.

0 komentar:

Posting Komentar

Coprights 2018 | Designed By | #GoldCreative