Informasi lengkap silahkan hubungi : 0341 - 717753

Kamis, 18 Oktober 2018

Bentuk Karakter Siswa, SMP dan SMK Baitul Makmur Gelar Outbound Bersama

Administrator Web
MALANG_BM-Memanfaatkan waktu usai melaksanakan Penilaian Tengan Semester (PTS) Semester I/2018, SMP dan SMK Baitul Makmur menggelar outbound bertajuk Fun and Leadership Training di Coban Talun, Batu, pada 5-6 Oktober 2018. Kegiatan ini, dikuti oleh seluruh siswa kelas VII sampai kelas XII dan guru SMP dan SMK Baitul Makmur.

Koordinator Fun and Leadership Training SMP dan SMK Baitul Makmur, Febby Cahya Triandra, S.Pd, M.Pd, mengatakan digelarnya outbound bertujuan untuk melatih siswa bertanggungjawab terhadap diri sendiri. Karena itu, berbagai kegiatan yang menunjang acara ini digelar.

“Makanya, pada malam harinya ada acara api unggun, selanjutnya pagi-pagi tracking area naik gunung lalu turunnya  ambil atau pungut sampah sepanjang mereka turun. Luar biasa, jadi kanan kiri jalan anak-anak ambil sampah,” kata Wakil Kepala Kurikulum SMK Baitul Makmur ini.

Harapannya, lanjut dia, aksi pungut sampah itu bisa menjadi karakter  siswa SMP dan SMK untuk dibawa ke sekolah dalam proses kebersihan di lingkungan tempat belajar mereka sehari-hari. Hal ini sesuai tuntunan dalam Islam yakni at-thuhurus syatrul iman (kesucian itu bagian dari iman).
Setelah kegiatan tracking, dia mengatakan, anak-anak main fun game di antaranya ramtamtam guli guli guli, permainan ambil tepung, war of candle, dan terakhir uji nyali  flying fox.

“Tujuannya (outbound) hanya satu, kita ini (SMP dan SMK) satu yayasan sehingga harapannya antar sub unit dengan yang lainnya bisa fusi/gabung jadi satu. Yang namanya berbeda itu pasti. Allah menciptakan kita agar berbeda tetapi apakah perbedaan itu bisa menyatukan atau memisahkan, ini menjadi pilihan,” papar dia.

Karena itu, Febby berharap, dengan adanya leadership diharapkan antara siswa SMP dengan SMK ada keberlanjutan.  Pasalnya, di tahun-tahun sebelumnya siswa SMP Islam Baitul Makmur tidak ada sama sekali yang mau masuk SMK Baitul Makmur.

 “Barangkali itulah kuncinya. Siswa SMP juga tahu kalau kakaknya tidak seperti yang mereka bayangkan, yang cuek, atau apa. Karena kemarin (saat pelaksanaan outbound) mereka itu terlihat saling melindungi. Demikian juga siswa SMK tidak melihat adik-adiknya siswa SMP tidak sombong seperti yang mereka kira. Ternyata mereka itu saling melindungi karena dalam satu kelompok. Bahasanya itu ukhuwah islamiyah. Menggalang ukhuwah Islamiyah di leadership,” jelasnya.

Sementara itu, Kepala SMP Islam Baitul Makmur Ahmad Nur Syadzili, S.Pd, menambahkan, kegiatan outbound ini berawal dari aktivitas rutin SMP Islam Baitul Makmur yang berjudul Sinau Wisata yang digelar setiap satu semester. “Pelaksanaannya dilakukan setelah penilaian tengah semester atau PTS. Untuk kali ini, karena yang kami angkat adalah outbound maka sinau wisatanya berbentuk alam yang diselanggarakan di Coban Talun ini,’ jelasnya.

        Menurut dia, manfaat digelarnya outbound ini adalah yang perrtama, refreshing setelah siswa melakukan kegiatan belajar mengajar (KBM). Manfaat kedua, latihan kepemimpinan atau leadershipnya, dan yang ketiga ada ilmu pengetahuan tentang bagaimana cara menjaga alam. 

“Anak-anak nanti melakukan penanaman pohon atau penghijaun kembali secara simbolis,” kata dia.
      Dia berharap, pasca acara ini siswa lebih disiplin, mandiri, bisa mengatur anggotanya, khususnya terhadap diri sendiri. (hen)



Penulis/Editor: Hendarmono Al Sidarto

Rabu, 03 Oktober 2018

Gunakanlah Kata ’Jangan’ dalam Mendidik Anak

Administrator Web
Mulailah mendidik anak kita dengan kata ‘jangan’. Memang, kata ini banyak sekali persepsinya yang bermuatan negatif dan larangan. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) kata jangan berarti menyatakan melarang, tidak boleh, hendaknya tidak usah.
Namun, kita sebagai orang tua sering lupa atau tidak tahu bahwa lebih dari 500 kata di dalam Al-Qur'an menggunakan kata jangan. Salah satunya, di dalam Surat Luqman ayat 12-19 dijelaskan bahwa dalam mendidik anak dilakukan dengan kasih sayang orang tua bukan membentak. Artinya, metode pendidikan yang dilakukan adalah dengan nasehat orang tua ke anak secara tulus, ikhlas, berbekas, dan berpengaruh saat memasuki jiwa yang bening hati, terbuka, dan bijak saat mendidik anak. Setidaknya, metode yang diterapkan dalam pendidikan adalah metode keteladanan sesuai Al- Qur'an dan Hadits.
Kesalahan dalam mendidik anak pada zaman now di antaranya: mudahnya akses internet yang bisa mengubah pola pikir anak-anak. Selain itu, mudahnya anak-anak dalam berkomunikasi dalam lawan jenis yang membuat anak lebih nyaman dengan sahabat atau teman . Solusinya, adalah bagaimana orang tua sekarang bisa berkomunikasi dengan baik terhadap anaknya, komunikasi yang bermartabat, berakhlak, dan bermutu.

Jangan mengharamkan kata jangan kepada anak-anak agar tahu mana yang baik dan buruk, mana yang benar dan salah. Selama ini, kata jangan sangat berasumsi ke kalimat negatif atau perintah negatif. Karena itulah, berangkat dari hal tersebut kita mengupas kekeliruan pada buku-buku pendidikan, seminar teori pendidikan, dan lain-lain,  terutama digunakannya kata preventif seperti hati-hati, berhenti, dan diam atau stop. Alasannya,  menggunakan kata jangan karena alam bawah sadar manusia tidak merespons dengan cepat kata jangan. Kata jangan akan memberikan nuansa negatif dan larangan sebagai orang tua. Maka dari itu, coba ganti kata dengan lebih positif dan berikan alasan agar dapat diterima oleh anak. Hal inilah yang membuat keraguan dan indah nampaknya tapi di dalamnya terkandung bahaya kronis (keraguan).
Mari kita bahas syubhat (keraguan) yang ada saat ini. Kalau mau teliti mari kita tanyakan kepada mereka yang melarang kata jangan. Padahal, sebaliknya ratusan kata jangan tercantum di dalam Surat Luqman ayat 12 -19. Dalam penjelasannya, kisah Surat Luqman ini dibuka dengan penekanan Allah SWT bahwa Luqman Hakim itu orang yang diberi hidayah (orang arif yang secara tersirat kita diperintahkan untuk meneladaninya).
QS. Luqman 13  bahkan lebih tegas bahwa Luqman menceritakan, "Janganlah engkau menyekutukan Allah SWT, sesungguhnya syirik termasuk dosa besar." Dalam hal ini Luqman tidak perlu mengganti kata “jangan menyekutukan Allah dengan Esakanlah Allah SWT”.
Pun demikian dengan "laa" yang lain, tidak diganti dengan kata-kata kebalikan yang bersifat ajaran mengapa Luqman tidak mengganti jangan, diam, atau berhenti. Kata jangan itu mudah dicerna oleh murid-murid atau anak-anak sebagaimana penuturan Luqman kepada anaknya. Karena itulah, kita sebagai orang tua wali harus mengatakan kata jangan untuk ketegasan dalam menjaga anak-anak di tengah kemajuan era globalisasi. (*/hen)



Penulis: Surya Agung Sabda, S.Pd

Editor: Hendarmono Al Sidarto

Coprights 2018 | Designed By | #GoldCreative