Informasi lengkap silahkan hubungi : 0341 - 717753

Minggu, 30 September 2018

Taktik Pemutarbalikan Fakta Serta Sejarah Tentang Pembantaian Para Ulama oleh PKI

Administrator Web
Aku adalah aku,
aku bukanlah kamu
dan kamu bukanlah aku.
Banggalah menjadi dirimu yang seperti aku bangga menjadi diriku.



Sejarah perlu dipahami secara utuh dan berkesinambungan. Pemahaman sejarah yang hanya dengan membaca potongan-potongan fragmen, sementara sebagian fragmen telah dipenggal dan ditutup-tutupi, akan melahirkan pemahaman menyimpang. Tidak hanya itu, bahkan bisa memutarbalikkan fakta dalam peristiwa. Hal itu terjadi di tengah bangsa ini dalam memahami sejarah pemberontakan Partai Komunis Indonesia (PKI).
     Jangan bilang PKI tidak bersalah. Peristiwa Madiun 1948 itu ulah biadab PKI. Dan betapa pahitnya omongan Aidit (Dipa Nusantara Aidit, seorang pemimpin senior PKI) yang bilang ulama itu tanpa kerjaan, kitabnya yang banyak, yang bisa buat bendung kali Ciliwung tidak berguna, Indonesia tak butuh ulama.
Dalam pandangan sejarah kontemporer yang tidak benar, PKI hanya dianggap membuat manuver hanya tahun 1965. Itu pun juga tidak sepenuhnya diakui, sebab peristiwa berdarah  itu dianggap hanya manuver TNI Angkatan Darat. Kemudian dibuat kesimpulan bahwa PKI tidak pernah melakukan petualangan politik. Mereka dianggap sebagai korban konspirasi dari TNI AD dan organisasi kemasyarakatan (ormas) Islam anti PKI seperti NU, dan lain-lain.
Pemberontakan PKI pertama kali dilakukan tahun 1926, kemudian dilanjutkan dengan Pemberontakan Madiun 1948 dan dilanjutkan kembali pada tahun 1965 adalah suatu kesatuan sejarah yang saling terkait. Para pelakunya saling berhubungan. Tujuan utamanya adalah bagaimana mengkomuniskan Indonesia dengan mengorbankan para ulama dan aparat negara.


Pemberontakan Madiun 1948 yang dilakukan PKI beserta Pemuda Sosialis Indonesia (Pesindo) dan organ kiri lainnya menelan ribuan korban, baik dari kalangan santri, para ulama, dan pemimpin tarekat yang dibantai secara keji. Selain itu, berbagai aset mereka seperti masjid, pesantren, dan madrasah dibakar. Demikian juga kalangan aparat negara baik para birokrat, aparat keamanan, polisi, dan TNI banyak yang mereka bantai saat mereka menguasai Madiun dan sekitarnya yang meliputi kawasan strategis Jawa Timur dan Jawa Tengah.
      Anehnya, PKI menuduh pembantaian yang mereka lakukan itu hanya sebagai manuver Hatta (Wakil Presiden RI Muhammad Hatta). Padahal jelas-jelas Bung Karno (Presiden RI Soekarno) sendiri yang berkuasa saat itu bersama Hatta mengatakan pada rakyat bahwa pemberontakan PKI di Madiun yang dipimpin Muso dan Amir Syarifuddin itu sebuah kudeta untuk menikam Republik Indonesia dari belakang, karena itu harus dihancurkan. Korban yang begitu besar itu ditutupi oleh PKI. Karena itu tidak lama kemudian Aidit menerbitkan buku putih yang memutarbalikkan fakta pembantaian Madiun tersebut. Para penulis sejarah termakan oleh manipulasi Aidit. Tetapi rakyat, para ulama, dan santri sebagai korban tetap mencatat dalam sejarahnya sendiri. 
Karena peristiwa itu dilupakan maka PKI melakukan agitasi dan propaganda intensif sejak dimulainya kampanye Pemilu 1955, sehingga suasana politik tidak hanya panas, tetapi penuh dengan ketegangan dan konflik. Berbagai aksi teror dilakukan PKI. Para kiai dianggap sebagai salah satu dari setan desa yang harus dibabat. Kehidupan kiai dan kaum santri sangat terteror, sehingga mereka selalu berjaga dari serangan PKI.
Fitnah, penghinaan serta pembunuhan dilakukan PKI di berbagai tempat, sehingga terjadi konflik sosial yang bersifat horisontal antara pengikut PKI dan kelompok Islam, terutama Nahdlatul Ulama (NU). Serang menyerang terjadi di berbagai tempat ibadah, perusakan pesantren dan masjid dilakukan termasuk perampasan tanah para kiai. Bahkan pembunuhan pun dilakukan. Saat itu, NU melakukan siaga penuh yang kemudian dibantu oleh GP Ansor dengan Banser sebagai pasukan khusus yang melindungi mereka. Lagi-lagi kekejaman yang dilakukan PKI terhadap santri dan kiai serta kalangan TNI itu dianggap hanya manuver TNI AD.
Sejarah dibalik. Yang selama ini PKI bertindak sebagai pelaku kekejaman, diubah menjadi pihak yang menjadi korban kekejaman para ulama dan TNI. Karena itu, kita khususnya para pendidik, luruskan sejarah agar anak didik kita tahu bagaimana sulitnya menjaga persatuan dan persatuan. (*/hen)


Penulis: Surya Agung Sabda, S.Pd
Editor: Hendarmono Al Sidarto


*Keterangan: Foto-foto ilustrasi disadur dari Jawad Bahonar

Administrator Web / Author & Editor

Has laoreet percipitur ad. Vide interesset in mei, no his legimus verterem. Et nostrum imperdiet appellantur usu, mnesarchum referrentur id vim.

0 komentar:

Posting Komentar

Coprights 2018 | Designed By | #GoldCreative